Hai sobat pembaca! Kali ini aku bakal kasih review tentang salah satu novel yang beberapa waktu lalu aku baca! Judulnya : Sepasang Angsa Putih Untuk Palupi. Mau tahu kan gimana? Yuk ikutin keseruannya!😀
Judul : Sepasang Angsa Putih Untuk Palupi
Penulis : Marliana Kuswanti
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Penyunting : Shara Yosevina
Desain Sampul : Dewara
Desain : Dea Elysia Kristianto
Penata Letak : Dias Aditya Andrianto
ISBN : 978-602-394-890-1
Tahun : 2017
Blurb
Bagi bapaknya Palupi, menjadi penulis itu omong kosong. Menurut Bapak, bekerja itu pergi pagi, pulang sore. Menjadi karyawan swasta atau abdi negara seperti dirinya.
Palupi menyudahi perdebatan itu dengan hijrah ke Jakarta. Kereta membawa Palupi pergi meninggalkan Yogyakarta dan Ibu yang paling memahami cita-citanya.
Bertahun-tahun Ibu senantiasa bertanya kapan anaknya pulang. Palupi enggan menjawab, sebab sosok yang membuatnya pergi dulu tak kunjung menunjukkan rasa rindu.
[Review]
Kalau kalian cita-citanya ditentang oleh orang tua apa yang akan kalian lakukan? Membiarkan orang tua mengambil alih kehidupan yang menjadi pilihan kalian? Atau justru mengikuti kata hati?
Palupi memilih untuk tetap melanjutkan apa yang dicita - citakannya sejak dulu. Menjadi Penulis. Walaupun tanpa restu dari sang Bapak, Palupi hijrah ke Jakarta. Dengan berbekal laptop yang selama ini menemaninya.
Kehidupan di Jakarta memang sangat susah. Menjadi penjaga kios pulsa, menjadi pilihannya. Dengan upah yang lumayan dan mendapat makan pagi dan siang gratis, tak ada alasan bagi Palupi untuk menolak. Hidup di Jakarta harus hemat. Pemilik kios yang bernama Sarmilah, bagaikan malaikat yang dikirim tuhan.
Menulis dan membaca. Hanya hal itu yang dilakukan Palupi. Mengirimkan naskah ke berbagai penerbit tak gentar ia lakukan. Berbarengan juga dengan surat Ibunya yang selalu menanyakan keadaannya. Dan kalimat yang sampai sekarang belum Palupi tahu jawabannya "Kamu kapan pulang, Nak?"
Menjadi seorang penulis sudah dia kantongi. Berteman dengan Bonita dan Santi. Dan juga lelaki bernama Ken yang membuat hidup Palupi berwarna.
Sepuluh tahun. Palupi akhirnya pulang kerumahnya yang sebenarnya. Yogyakartanya. Pukisnya. Dan kopinya. Sudah menanti. Tapi ada satu hal yang paling menanti Palupi disana, selain ibunya.
"Kau bisa belajar dari siapa saja bahkan apa saja, yang berarti diikuti dengan kapan saja dan di mana saja. Tak peduli keluar dari mulut siapa, kau hanya perlu mendengarkan isi dari ucapan-ucapan yang terlontar itu. Kau bisa menilai mana yang baik dan benar lalu membuang sisanya" - 101
"Saat kau semakin dewasa, semakin banyak hal yang tidakbisa dengan mudah kau ungkapkan kepada orang lain sekalipun itu ibumu sendiri" - 148
Aku suka banget sama layout'nya sumpah! Dan aku juga ga menemukan kesalahan penulisan ( typo ) disini. Pokoknya recomended buat dibaca!
[Finish!]
Ada yang tahu siapa atau apa yang menunggu Palupi? Hmm, kalian bisa temukan jawabannya dengan membaca novel ini. Mungkin di beberapa toko buku online masih tersedia. Atau toko buku lainnya.
Ditunggu ya gimana pendapat kalian tentang novel dan reviewan ku yang masih sangat kurang ini.
With love, Lia😁
Untuk fisik bukunya kalian bisa cek instagram aku ya 😊 entah kenapa ga bisa muat gambar disini. Bisa dilihat di @prmawyn
Judul : Sepasang Angsa Putih Untuk Palupi
Penulis : Marliana Kuswanti
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Penyunting : Shara Yosevina
Desain Sampul : Dewara
Desain : Dea Elysia Kristianto
Penata Letak : Dias Aditya Andrianto
ISBN : 978-602-394-890-1
Tahun : 2017
Blurb
Bagi bapaknya Palupi, menjadi penulis itu omong kosong. Menurut Bapak, bekerja itu pergi pagi, pulang sore. Menjadi karyawan swasta atau abdi negara seperti dirinya.
Palupi menyudahi perdebatan itu dengan hijrah ke Jakarta. Kereta membawa Palupi pergi meninggalkan Yogyakarta dan Ibu yang paling memahami cita-citanya.
Bertahun-tahun Ibu senantiasa bertanya kapan anaknya pulang. Palupi enggan menjawab, sebab sosok yang membuatnya pergi dulu tak kunjung menunjukkan rasa rindu.
[Review]
Kalau kalian cita-citanya ditentang oleh orang tua apa yang akan kalian lakukan? Membiarkan orang tua mengambil alih kehidupan yang menjadi pilihan kalian? Atau justru mengikuti kata hati?
Palupi memilih untuk tetap melanjutkan apa yang dicita - citakannya sejak dulu. Menjadi Penulis. Walaupun tanpa restu dari sang Bapak, Palupi hijrah ke Jakarta. Dengan berbekal laptop yang selama ini menemaninya.
Kehidupan di Jakarta memang sangat susah. Menjadi penjaga kios pulsa, menjadi pilihannya. Dengan upah yang lumayan dan mendapat makan pagi dan siang gratis, tak ada alasan bagi Palupi untuk menolak. Hidup di Jakarta harus hemat. Pemilik kios yang bernama Sarmilah, bagaikan malaikat yang dikirim tuhan.
Menulis dan membaca. Hanya hal itu yang dilakukan Palupi. Mengirimkan naskah ke berbagai penerbit tak gentar ia lakukan. Berbarengan juga dengan surat Ibunya yang selalu menanyakan keadaannya. Dan kalimat yang sampai sekarang belum Palupi tahu jawabannya "Kamu kapan pulang, Nak?"
Menjadi seorang penulis sudah dia kantongi. Berteman dengan Bonita dan Santi. Dan juga lelaki bernama Ken yang membuat hidup Palupi berwarna.
Sepuluh tahun. Palupi akhirnya pulang kerumahnya yang sebenarnya. Yogyakartanya. Pukisnya. Dan kopinya. Sudah menanti. Tapi ada satu hal yang paling menanti Palupi disana, selain ibunya.
"Kau bisa belajar dari siapa saja bahkan apa saja, yang berarti diikuti dengan kapan saja dan di mana saja. Tak peduli keluar dari mulut siapa, kau hanya perlu mendengarkan isi dari ucapan-ucapan yang terlontar itu. Kau bisa menilai mana yang baik dan benar lalu membuang sisanya" - 101
"Saat kau semakin dewasa, semakin banyak hal yang tidakbisa dengan mudah kau ungkapkan kepada orang lain sekalipun itu ibumu sendiri" - 148
Aku suka banget sama layout'nya sumpah! Dan aku juga ga menemukan kesalahan penulisan ( typo ) disini. Pokoknya recomended buat dibaca!
[Finish!]
Ada yang tahu siapa atau apa yang menunggu Palupi? Hmm, kalian bisa temukan jawabannya dengan membaca novel ini. Mungkin di beberapa toko buku online masih tersedia. Atau toko buku lainnya.
Ditunggu ya gimana pendapat kalian tentang novel dan reviewan ku yang masih sangat kurang ini.
With love, Lia😁
Untuk fisik bukunya kalian bisa cek instagram aku ya 😊 entah kenapa ga bisa muat gambar disini. Bisa dilihat di @prmawyn


Komentar
Posting Komentar